Dunia Sosial Milik Imam Prasodjo

Perawakannya besar dan tegap. Rambutnya mulai memutih namun semangatnya seakan tak pernah pudar. Dia lah Bapak Imam Prasodjo. Publik mengenalnya sebagai seorang Sosiolog dan Aktivis Sosial.
“’Kegiatan sosialnya di berbagai LSM dan yayasan lebih besar porsinya dibanding kegiatannya dalam menjalankan profesi menjadi dosen sosiologi untuk mahasiswa S1 dan S2 di FISIP UI. Kiprahnya di Yayasan Nurani Dunia telah menorehkan catatan panjang hasil yang dapat dinikmati oleh masyarakat banyak. Seperti dibangun dan direnovasinya sekitar 25 sekolah di daerah miskin atau rawan konflik, membuka beberapa perpustakaan, antara lain di wilayah Kampung Melayu, Kapuk, Kampung Bonang, hingga ke Bantul-Yogyakarta, dan Banjarnegara-Jawa Tengah. Program pembangunan rumah seperti di Aceh dan Yogyakarta, serta bekerjasama dengan WHO mengelola program pengelolaan air bersih di Madura dan banyak lagi”. (Sumber: Alif Magz )

“Sekarang kalian di sini belajar social entrepreneur, tapi tentu baru jadi social enterpreneur kalau sudah berhasil berbuat sesuatu untuk masyarakat” ujar Imam Prasodjo saat mengisi Class of Social Entrepreneur tanggal 16 Maret 2013 lalu.

IMG_4052-resize

Menurut Imam Prasodjo, aktivitas pengabdian masyarakat termasuk kewirausahaan sosial merupakan bagian dari aplikasi ilmu sosial. Sebuah ilmu apalagi ilmu sosial memang sudah seharusnya tak hanya sekedar berakhir dalam tulisan-tulisan atau diskusi dalam ruang kelas. Ilmu sosial akan bermanfaat menyelesaikan problem di tataran empiris serta memperkaya ilmu sosial itu sendiri bila ada sebuah bagian bernama pengabdian masyarakat yang disertakan di dalamnya.

Ilmu Sosial Adalah Seni

Bagi Imam Prasodjo, ilmu sosial adalah art. Setidaknya ada tiga jenis art yang dimilikinya, yakni The art of understanding, The Art of Feeling, dan The Art of Problem Solving. Belajar ilmu sosial berarti belajar untuk memahami berbagai persoalan dalam masyarakat. Tidak hanya sekedar memahami namun kemudian harus belajar merasakan permasalahan yang dialami oleh masyarakat, untuk itulah penting mahasiswa atau kaum pembelajar lainnya melakukan program-program pengabdian masyarakat. Namun ternyata tidak cukup hanya sekedar memahami dan ikut merasakan, tapi harus bisa menyelesaikan permasalahan sosial. Bagaimanakah caranya? Salah satunya adalah melalui program pengabdian masyarakat yang dibungkus dalam kerangka kewirausahaan sosial yakni menyelesaikan permasalahan sosial dengan menggunakan prinsip-prinsip kewirausahaan. Dengan 3 art tersebut, ilmu sosial dapat memberi kontribusi maksimal dalam berbagai permasalahan yang dimiliki oleh masyarakat.

Bentuk Murni Pengabdian Sosial

Imam Prasodjo menyampaikan bahwa dalam bentuk murninya, pengabdian sosial yang dilakukan oleh per orangan maupun kelompok dapat dikategorikan dalam 3 jenis: Social Service Provider, Social Activism, dan Social Entreprneeurship. Ketiganya memiliki perbedaan dalam hal dampak yang dihasilkan dan langsung atau tidak nya aksi yang dilakukan.

bentuk social engagement

Di kuadran pertama yakni social service provider, aksi yang dilakukan berbentuk langsung dapat dirasakan oleh masyarakat, namun hanya memperbaiki kondisi yang ada dan tidak dapat mengubah sistem yang sudah eksis sebelumnya. Sementara di kuadran kedua terdapat social entrepreneurship yang aksinya tetap dapat langsung dirasakan, namun bisa pula mengubah ekuilibrium dalam masyarakat karena social entrepreneur melakukan inovasi-inovasi untuk merubah sistem yang ada di masyarakat. Ketiga adalah social activist dimana mereka memang dapat mengubah equilibrium namun aksi mereka tidak dapat langsung dirasakan oleh masyarakat karena pekerjaan mereka dititikberatkan pada perubahan kebijakan pemerintah yang dapat berimplikasi pada kesejahteraan masyarakat.

Melihat berbagai masalah sosial yang ada di masyarakat seperti kemiskinan, rusaknya lingkungan, dan tertindasnya kaum marjinal, yang belum banyak bisa diselesaikan baik oleh pemerintah maupun swasta melalui CSR nya,  peran dari social entrepreneur nampaknya menjadi sangat strategis untuk terus ada dan memperbaiki kondisi masyarakat. Memang tidak mudah, karena harus menjadi seorang anti-mainstream, yang berkarya bukan untuk memperkaya dirinya sendiri namun untuk perubahan bangsa…

“The reasonable man adapts himself to the world; the unreasonable one persists in trying to adapt the world to himself. Therefore, all progress depands on the unreasonable man” – Bernard Shaw

IMG_4057 resize

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>