IMG_5735

Inovasi Produk untuk Memecahkan Masalah Keberlanjutan di Masyarakat

Oleh:
Jalal
Pendiri dan Komisaris
Perusahaan Sosial WISESA
Pengembangan Masyarakat a la Bisnis Sosial
Beberapa waktu yang lampau penulis mendapatkan kesempatan untuk berbicara di forum Social Entrepreneur Academy yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa.  Penulis diminta untuk berbicara mengenai pengembangan masyarakat yang dilakukan oleh bisnis sosial.  Pada awalnya, penulis akan sekadar berbicara mengenai bagaimana ‘teori’ pengembangan masyarakat bisa diaplikasikan oleh mereka yang merasa dirinya wirausahawan sosial.  Namun, belakangan penulis terpikir bahwa sesungguhnya bisnis sosial ternyata memiliki kekhasan tersendiri dalam melakukan pengembangan masyarakat.  Setidaknya, ada penekanan yang berbeda dengan bagaimana organisasi lain melakukannya.
Pengembangan masyarakat—sebagaimana yang penulis pahami dari beragam literatur mutakhir soal itu—adalah upaya untuk meningkatkan kesejahteraan dan memandirikan kelompok masyarakat rentan dengan sumberdaya yang mereka miliki sendiri dan bantuan sumberdaya dari pihak lain.  Ini merupakan pengertian yang condong pada pendekatan ABCD alias assets-based community development, yang mengandaikan bahwa kelompok-kelompok masyarakat rentan sesungguhnya telah memiliki—setidaknya sebagian—sumberdaya yang dibutuhkan untuk menyejahterakan bahkan memandirikan meraka.  Tambahan sumberdaya eksternal diperlukan manakala memang terdapat deprivasi yang tak bisa mereka penuhi.
Pendekatan itu berbeda misalnya dengan yang kebanyakan dianut di Indonesia, di mana pengembangan masyarakat kebanyakan dimulai dari needs assessment—tanpa assets assessment—karena beranggapan bahwa pihak eksternallah yang akan memenuhi kebutuhan kelompok masyarakat rentan itu.  Dengan asumsi yang demikian, aset yang dimiliki oleh kelompok masyarakat rentan cenderung tidak dimanfaatkan atau bahkan dilupakan sama sekali.  Dalam jangka panjang, yang terjadi adalah ketergantungan—kalau bukan malahan kecanduan—sumberdaya dari pihak eksternal.  Ketergantungan tersebut sesungguhnya bertentangan dengan tujuan pengembangan masyarakat. Tidak mengherankan kalau pendekatan ABCD kini semakin popular di level global, karena bisa mengikis ketergantungan sejak awal.
Namun, apapun pendekatan pengembangan masyarakat yang dipergunakan, perwujudannya kebanyakan muncul dalam kategori kegiatan: projek komunitas, kesempatan kerja, dan peluang usaha.  Pembagian yang diajukan oleh IFC (2010) itu tampaknya memang sangat cocok bisa memasukkan seluruh projek pengembangan masyarakat, sehingga cukup banyak dipakai di kalangan penggiat pengembangan masyarakat.  Nah, yang penulis temukan dari pembacaan ulang atas kegiatan-kegiatan pengembangan masyarakat yang dilakukan oleh perusahaan sosial, tampaknya ketiga kategori itu tidak memadai.  Menurut hemat penulis, pengembangan masyarakat oleh perusahaan utamanya malahan dilakukan tidak dengan salah satu atau lebih kategori IFC tersebut.  Ada kategori baru yang perlu dibuat, yaitu pengembangan produk yang menyelesaikan masalah ekonomi-sosial-lingkungan di masyarakat.
Kalau kita lihat pemerintah sebagai pelaku pengembangan masyarakat, tampaknya yang paling banyak dilakukan adalah projek komunitas.  Sesekali pemerintah juga menciptakan peluang usaha, namun jumlahnya sangat terbatas.  LSM juga adalah pelaku pengembangan masyarakat yang handal. Sama dengan pemerintah, mereka sangat mengandalkan projek komunitas.  Biasanya dengan manfaat yang lebih besar dan berjangka panjang dibandingkan dengan yang dilakukan oleh pemerintah.  Mungkin kelebihan pemerintah dibandingkan LSM adalah dalam projek-projek infrastruktur skala besar, yang memang menjadi porsi kerja pemerintah.  Sementara, LSM dengan kedekatannya dengan masyarakat sangat banyak membuat projek skala kecil dengan sebaran penerima manfaat yang lebih merata.  Belakangan, LSM juga banyak menciptakan peluang usaha bagi masyarakat.  Mereka melihat beragam usaha mikro dan kecil yang sudah eksis, lalu mengembangkan lebih jauh untuk masyarakat rentan.
Perusahaan lain lagi.  Mereka tentu juga melakukan projek komunitas, namun membatasinya pada wilayah dampak operasi mereka—bandingkan dengan pemerintah dan LSM yang bisa melakukannya secara lebih tersebar.  Namun, perusahaan sangat kuat dalam melakukan pengembangan masyarakat yang terkait dengan kesempatan kerja, lantaran mereka melihat bahwa mengintegrasikan masyarakat lokal menjadi pekerja mereka—apalagi kalau perusahaan itu akan beroperasi dalam jangka panjang—akan sangat menguntungkan.  Karenanya, pelatihan, sertifikasi pekerja, kuota, dan sebagainya kerap menjadi cara perusahaan mengembangkan masyarakatnya.  Demikian juga, perusahaan sedapat mungkin mengajak masyarakat lokal untuk berbisnis dengan mereka, melalui peningkatan kapasitas manajemen, bantuan permodalan, dan sebagainya.  Local business development adalah salah satu kategori pengembangan masyarakat yang sangat banyak dilakukan oleh perusahaan.
Perusahaan sosial, di sisi sisi, adalah sama dengan kebanyakan perusahaan juga.  Sehingga ketiga kategori kegiatan itu bisa saja dilakukan.  Namun, melihat berbagai kasus di level global, tampaknya perusahaan sosial cenderung tidak melakukan projek komunitas.  Mengapa?  Karena dampak terbesar tidak datang dari situ, melainkan dari inovasi produk yang didesain untuk memecahkan masalah.  Perlu diingat kembali bahwa perusahaan sosial adalah perusahaan yang didirikan untuk memecahkan persoalan masyarakat dengan memanfaatkan mekanisme pasar, proses produksi yang ramah ekonomi-sosial-lingkungan, produk yang inovatif (baru dan lebih baik), serta melakukan reinvestasi atas majoritas keuntungan yang diperolehnya.
Dengan definisi yang demikian, maka pengembangan masyarakat yang dilakukan oleh perusahaan sosial pada hakikatnya adalah aktivitas bisnis bersama dengan masyarakat.  Oleh karena itu, projek komunitas, yang bukan merupakan bagian dari bisnis tidaklah banyak dilakukan oleh perusahaan sosial.  Ambil contoh Grameen Bank atau Grameen Danone yang dilakukan oleh pemuka bisnis sosial, Muhammad Yunus.  Lewat Grameen Bank, pengembangan masyarakat utamanya dilakukan dengan menyediakan sumberdaya finansial untuk perempuan yang hendak berbisnis, plus bantuan pembinaan manajemen dan hal lain yang terkait.  Grameen Danone menyediakan yoghurt terfortifikasi bagi anak-anak miskin, sehingga mereka bisa mendapatkan nutrisi dari jajanan yang biasa mereka makan.  Lebih jauh, kelompok rentan juga bisa menjadi penjual yoghurt, yang membuka peluang bisnis untuk mereka. Kedua contoh ini menyajikan gagasan bahwa tanpa projek komunitas, perusahaan sosial bisa memberdayakan dan menyejahterakan kelompok masyarakat rentan.
Karena inovasi dalam produk yang sangat kental, kebanyakan perusahaan sosial bisa membuat produk yang sedemikian murahnya.  Jauh lebih murah dibandingkan dengan produk ‘kompetitor’ yang sebelumnya sudah ada di pasaran.  Sifat inovatif—yang ditandai dengan kebaruan dan kinerja yang lebih baik—telah membuat David Green dari Aurolab bisa menciptakan lensa pengganti untuk pasien katarak yang dibanderol hanya USD2-4, dibandingkan dengan yang selama ini harus dibayar pasien sebelumnya, yaitu USD150.  First Book yang dibuat oleh Kyle Zimmer mampu membuat buku bacaan anak dengan harga USD1,80, pun dengan keuntungan USD0,75.  Demikian juga, MediaLab MIT bisa membuat laptop seharga USD150 yang dipergunakan untuk melayani keperluan pendidikan anak-anak miskin di seluruh penjuru dunia, khususnya Afrika.  Semua itu membuat perubbahan besar dalam masyarakat, karena tiba-tiba kelompok rentan bisa mendapatkan apa yang selama ini jauh dari jangkauan.
Yang juga sangat menarik dari beragam cerita tentang bagaimana perusahaan sosial melakukan pengembangan masyarakat adalah bagaimana perusahaan-perusahaan ini membuat bisnis bersama masyarakat dan menciptakan kesempatan kerja. Kadang-kadang memang seperti yang dilakukan oleh kebanyakan perusahaan, namun terkadang ada contoh ekstrem seperti yang datang dari KickStart yang didirikan oleh dua orang jenius, Nick Moon dan Martin Fisher.  Mereka berdua adalah pencipta beragam alat yang dipergunakan untuk memecahkan masalah spesifik sektor dan lokasi.  Mereka misalnya terkenal dengan pompa yang dipergunakan untuk irigasi mikro di Afrika Timur.  Walaupun pompa itu laku luar biasa, mereka tidak mengangkanginya untuk dibisniskan sendiri—yang demikian saja sudah akan membawa manfaat besar—mereka malahan mengajak banyak pihak untuk membuatnya, dengan membuatkan rencana bisnis yang dipastikan menguntungkan siapapun dalam 3-6 bulan.  Tak terhitung bisnis yang berkembang di kalangan masyarakat rentan karena KickStart, pun  demikian dengan serapan tenaga kerjanya.
Demikianlah, tanpa menempatkan projek komunitas—yang selalu bersifat non-komersial—sebagai tumpuan untuk pengembangan masyarakat, perusahaan-perusahaan sosial malahan secara cepat bisa mengintegrasikan kelompok rentan ke dalam pasar yang inklusif.  Pertama sebagai konsumen yang kebutuhannya terlayani dengan baik dan dengan harga yang terjangkau, kemudian sebagai penjual atau bahkan produsen yang turut dalam inovasi produk.  Masih banyak contoh lain yang bisa disampaikan, namun beberapa yang sudah disampaikan di atas pun sudah membuktikan bahwa pendekatan komersial yang berkeadilan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan sosial telah menjadi alat yang ampuh untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian kelompok masyarakat rentan.

Jakarta, 9 Maret 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>