IMG_3960

Mendulang Asa dari Kemitraan Bisnis Pertanian

Bisnis adalah sebuah pilihan, dan memulainya tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Sebab bisnis lebih dari sekedar  untung dan rugi. Bicara bisnis memiliki cakupan yang luas, mulai dari persoalan passion, menciptakan system, planning, hingga perihal marketing dan modal. Dan seni bagi pengusaha pemula adalah; terkadang semuanya harus dimulai  dan dilakukan hanya oleh satu kepala. Terlebih jika usaha bisnis yang dirintis sepenuhnya melibatkan masyarakat. Sang pengusaha musti mampu menjadi inventor, motivator, hingga surveyor. Tak pelak, Wijaya Tani yang kami rintis pun mengalami hal tersebut. Sebagai sebuah lembaga usaha yang bergerak dalam bidang agrobisnis, kami mulai menghimpun mitra tani dengan cara meyakinkan petani satu demi satu.

Kami memulai usaha pertanian dengan system kemitraan ini sebenarnya sudah sejak 2002. Dimulai dari sebuah tawaran perusahaan benih untuk mensuplai kebutuhan mereka. Sejenak jika dilihat tawaran itu sangat menggiurkan karena ada potensi untung luar biasa besar bila kami bisa melakukan sendiri budidaya penangkaran benih. Namun untung itu justru menjelma menjadi buntung lantaran keterbatasan kami untuk melakukan budidaya benih dalam jumlah besar. Selain karena memang kami bukan petani -dan belum terbiasa bertani- persoalan pun muncul mulai dari hal tehnis penanganan di lahan, persoalan quality dan juga pengadaan lahan dan persiapan factor produksi lain.

Berawal dari pengalaman tersebut akhirnya kami berfikir untuk mencari solusi lain yang mampu memberikan keamanan bagi usaha pembenihan yang baru mulai. Dan satu satunya pilihan terbaik adalah menggerakan petani untuk terlibat dalam kegiatan budidaya benih meski dengan konsekuensi mengurangi jauh ‘margin’ keuntungan untuk kami. Namun reaksi positif dari para mitra tani yang berhasil mendulang untung dari kegiatan ini ternyata justru mempercepat penguatan dan pengebangan bisnis pembenihan.

Management Petani

Bekerja dengan para mitra tani bukan berarti kami mengajari mereka melakukan hal baru. Sebab hamper seemua mitra tani sudah menekuni pertanian jauh sebelum kami dewasa. Kemampuan bertani masyarakat yang sudah turun temurun menyimpan nilai kearifan local tersendiri. Sehingga kami hanya memberikan motifasi dan sedikit sentuhan management terkait pengolahan lahan, penanganan tanaman, dan orientasi usaha tani. Secara perlahan kami memperkenalkan system plotting area, yaitu menyesuaikan topografi dan suasana lahan dengan varietas tanaman, schedule planting atau penjadwalan tanam hingga bloking area, atau mengharuskan suatu lahan dengan luas tertentu untuk bertanam satu varietas tertentu.

Melalui program kemitraan breeding benih, kami memperkenalkan beberapa tehnik tehnik baru dalam SOP tanam. Beberapa istilah yang dikenal petani misalnya polinasi, topping, training, detaseling, male cut, kastrasi, rouging, off type, dll.

Sementara dalam program bertanam sayur dan buah segar untuk kebutuhan pasar konsumsi (fresh market) Wijaya Tani mencoba mengatur  dan menciptakan sebuah proses poduksi yang utuh dan kontinu, meliputi proses produksi, distrbusi hingga mareting. Melalui Wijaya Tani kami mengajak petani untuk bertanam sayur dan buah, mengawal seluruh proses, hingga memberikan jaminan pasar atas hasil panennya. Satu hal yang acap menjadi persoalan petani adalah, bahwa petani mampu untuk menanam hingga memanen apapun, namun keterbatasan petani terhadap akses pasar yang membuat produk mereka kadang menjadi tidak bernilai  nilai ekonomi. Secara bertahap kami memberikan pemahaman kepada mitra tani bahwa petani merupakan poros utama dalam bisnis agro. Petani adalah produsen yang semestinya selalu eksis dan kontinu berproduksi, namun juga disertai akses pasar yang pasti.

Memang bergabung dengan Wijaya Tani tidak serta merta membuat harga panen mereka melambung, namun jaminan pasar bahwa produk mereka diterima dan dibeli –meski fluktuatif sesuai harga pasar- cukup menumbuhkan loyalitas tani. Dan loyalitas adalah kunci utama kesuksesan program kemitraan ini. Sebab biamana loyalitas petani kuat maka pelbagai langkah perbaikan untuk peningkatan kualitas dapat diselenggarakn dengan lancar.

Selain itu Wijaya Tani juga mencoba memperkenalkan system home farming, yaitu bertani dengan memanfaatkan halaman dan pekarangan rumah saja. Adanya kepastian dibelinya semua hasil panen home farming ini cukup membuat para ibu rumah tangga antusias. Sepintas mungkin lahan disekitar rumah yang tidak seberapa luas nampak tidak seberapa hasilnya. Sebab selain memang sempit dan populasi tanaman yang sedikit, kadang perawatan nya pun cenderung sambilan.

IMG_3953

Hingga pertengahan 2015, kami mencoba menerapkan system tabungan panen bagi para mitra home farming. Yaitu sebuah kegiatan pengumpulan hasil panen setiap saat –seberapapun hasilnya- kepada kelompok tani atau coordinator area setempat. Selanjutnya panen mereka dibukukan dalam sebuah kartu panen sehingga para ibu itu bisa tahu berapa kilogram panen dari pekarangan rumah dan berapa rupiah yang bisa dicapai dari program ini. Dan faktanya cukup fantastis, program sampingan ini mampu menambah nilai ekonomi keluarga.

Hingga saat ini setidaknya Wijaya Tani telah memiliki mitra tani yang tersebar di tiga kabupaten di jawa timur, yaitu Trenggalek, Tulungagung dan ponorogo. Adapun cara kerja di tiga wilayah tersebut adalah dengan system kemitraan dimana Wijaya Tani selalu membentuk kelompok atau koordinator area untuk mengatur dan mengawasi semua program yang dijalankan di lokasi masing masing. Dan para coordinator ini mendapatkan profit berupa bonus sesuai dengan keberhasilan pembinaan di masing masing anggotanya. Oleh karenanya semua yang terlibat dalam kegiatan Wijaya Tani selalu mendapat hasil sesuai dengan kualitas pekerjaannya. Sejauh ini, melalui sistem kerja ini Wijaya Tani mampu berjalan tanpa satu orang pun yang berposisi sebagai karyawan.

IMG_3708

Sejak awal Kami memiliki semboyan “berkarya untuk keberkahan”, bukan sedikit atau banyaknya keuntungan yang mampu dihasilkan melainkan kemaslahatan bersama dan keberlanjutan. Dari pengalaman menjalani bisnis kemitraan dalam bidang agro ini –bukan berarti tanpa kegagalan- kami semakin yakin bahwa sector agro adalah pekerjaan mulia dan patut dibanggakan. Sebab selain bekerja dengan pribadi pribadi petani yang penuh kesahajaan dengan berlatar belakang pemahaman dan pengetahuan yang berbeda –kami yakin- bahwa petani adalah wakil Tuhan yang bertugas mengolah bumi menjadi sumber kehidupan. -)

Candra Panji

Social Entrepreneur Academy 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>