Tag Archives: olahan kelapa

IMG_5488

Derri Kusuma, Mengembangkan Bisnis Nata de Coco Bersama Masyarakat

Nata de coco merupakan makanan yang tentu sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia.  Makanan yang terbuat dari fermentasi air kelapa dengan bakteri Acetobacter tersebut banyak digunakan sebagai campuran minuman, agar-agar, dan berbagai hidangan lain. Pembuatan nata de coco memakana waktu hingga 7 hari. Prosesnya sebagai berikut: air dicampur dengan gula dan cuka, kemudian direbus hingga mendidih. Setelah matang, air rebusan dituang ke dalam nampan, lalu ditutup dengan kertas koran. Satu hari setelahnya, bakteri Acetobacter dimasukkan ke dalam nampan berisi air rebusan tersebut, lalu diperam hingga 7 hari. Setelah 7 hari diperam, nata de coco siap panen dengan bentuk lembaran.

Adalah Derri Kusuma, seorang pemuda di Lampung yang membuat usaha nata de coco dan telah beromset ratusan juta rupiah per bulannya. Tak hanya itu, Derri juga mengajak masyarakat bersama-sama mengembangkan bisnis potensial ini. Pria berusia 27 tahun itu memulai usaha ini pada tahun 2011. Sebelumnya, pada tahun 2009 Derri bekerja di perusahaan pembuat nata de coco. Tujuan Derri bekerja saat itu selain mendapat penghasilan tetap, juga ingin mempelajari usaha dan mendapat pengalaman. Melihat di sekitar tempat tinggalnya banyak limbah air kelapa yang belum termanfaatkan maksimal, maka pada tahun 2011 Derri memberanikan diri keluar dari pekerjaannya dan membuat usaha nata de coco sendiri, dengan brand “TH Brothers Coco”.

upload web 1

Kegiatan produksi nata de coco TH Brothers Coco

Pada masa awal, Derri mengajak 3 orang temannya untuk sama-sama membangun usaha ini. Di tahun 2012, produk TH Brothers Coco sudah berhasil masuk ke perusahaan makanan ternama yang meminta pasokan nata de coco dalam jumlah banyak. Melihat banyak masyarakat sekitar lokasi usahanya yang berada di kondisi ekonomi menengah ke bawah, Derri mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjalankan bisnis ini. Derri meminjamkan peralatan produksi nata de coco kepada masyarakat dan hasil produksinya dibeli dengan harga pasaran. Masyarakat tidak perlu membayar uang sewa, hanya perlu menyediakan tempat produksi di rumah masing-masing dan mengikuti pelatihan nata de coco. “Dengan adanya usaha tersebut, diharapkan dapat menambah penghasilan masyarakat, sehingga tercipta masyarakat yang sejahtera, khususnya kepada masyarakat yang selama ini belum punya pekerjaan tetap”, katanya saat mendaftar Social Entrepreneur Camp 2015.

Nampan-nampan berisi cairan bakal nata de coco

Nampan-nampan berisi cairan bakal nata de coco

upload web 2

Beberapa masyarakat yang diberdaya TH Brothers Coco

Derri Kusuma adalah peserta Social Entrepreneur Camp 2015. Satu-satunya peserta dari Lampung yang lolos ke pelatihan ini. Dengan pelatihan dan pendampingan usaha dari Dompet Dhuafa, diharapkan akan semakin banyak masyarakat yang diberdaya, sehingga cita-cita Derri untuk menciptakan masyarakat yang sejahtera perlahan tercapai.