pringsewu50

Uniknya Rumah Makan Pringsewu

Bagi Anda yang pernah melakukan perjalanan ke Jawa Tengah atau Jawa Timur, baik melalui jalur selatan atau utara, tentu tidak asing dengan rumah makan bernama Restoran Pringsewu. Restoran ini memiliki berbagai keunikan, dan keunikan yang paling menonjol terlihat pada metode promosinya yang begitu kreatif. Sejak 60 km sebelum Anda sampai, Anda sudah akan disuguhi dengan berjejernya papan nama promosi rumah makan ini. Setiap 1 km, papan nama dengan kalimat unik seperti “Awas lalat! Pilih Makanan yang Bersih”, “Air kami bebas bakteri”, bahkan sekedar kalimat “Jangan lupa shalat!” akan menemani perjalanan Anda.

Bisa dibilang, Grup Pringsewu (GP) merupakan bisnis keluarga yang berhasil. Perusahaan ini memiliki 17 restoran besar dengan nama Pringsewu, Pringgading, dan Pringjajar. GP didirikan oleh Agus Hardiyanto. Agus memulai bisnis restorannya ini di Purwokerto, Jawa Tengah. Saat ini restoran ini menjadi pilihan banyak keluarga yang sedang dalam perjalanan untuk makan dan beristirahat. Tak heran, dari tahun ke tahun restoran ini terus tumbuh. “Per tahun kami canangkan pertumbuhan minimum 20% dan selalu buka gerai baru,” papar Agus Hardiyanto, yang dikutip dari solografi.com

Selain karena rasanya yang enak dan fasilitasnya yang baik, pertumbuhan dan bagusnya kinerja jaringan restoran ini juga sangat ditentukan oleh kemampuan pemilik perusahaan dalam mengelola karyawan. GP sudah menerapkan model People Management yang levelnya bisa dibilang lebih maju dibanding perusahaan menengah sekalipun, apalagi dibanding sesama perusahaan daerah dan perusahaan resto.

Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan yang memiliki 700-an karyawan tersebut telah membuat sistem tertulis soal people management ini, terutama yang terkait kewajiban perusahaan terhadap para karyawan. Sistem tersebut dibukukan dan diberi nama Internal Quality Service (IQS). Di dalamnya tertulis secara jelas apa saja kewajiban perusahaan untuk pemenuhan kesejahteraan karyawan, dilengkapi petunjuk pelaksanaannya (juklak). Dengan kata lain, IQSberisi janji (komitmen perusahaan) untuk menjamin kesejahteraan karyawan, termasuk kompensasi dan hak-hak karyawan. Perusahaan mewajibkan dirinya sendiri.

Sebut saja, di dalamnya diatur komitmen tertulis manajemen GP menyangkut pengupahan. Juga ada pemberian fasilitas lain seperti program bantuan beras, tunjangan layanan, insentif, makan karyawan, makan ekstra, pakaian kerja, tunjangan bantuan pengobatan, bantuan untuk persalinan (melahirkan), kenaikan upah UMR, kenaikan upah prestasi, THR, upah lembur, Jamsostek dan Astek, mes karyawan, tur, dan lain-lain). Termasuk pula terkait kebijakan dan administrasi perusahaan seperti seragam olah raga, cuti (tahunan, hari besar, hamil, dan sebagainya), serta izin meninggalkan pekerjaan. Lalu, terkait hak karyawan di bidang pengembangan prestasi (achievement), dijelaskan kewajiban perusahaan seperti soal pengembangan karier, kelas pelatihan, studi banding, program peningkatan pengetahuan dan pengalaman, program pengembangan kepemimpinan. Ada pula penghargaan perusahaan seperti Best Seller of the Month, Best Cleanest of the Month (untuk karyawan berprestasi), penghargaan masa kerja, dan testimoni. Belum lagi soal hubungan antarkaryawan – contohnya bagaimana kunjungan ke karyawan yang terkena musibah, bantuan/sumbangan sukarela bagi karyawan yang membutuhkan, dan sebagainya.

Salah satu penerapan IQS ini yaitu pada tanggal 17 Maret 2009 seluruh jaringan resto GP tutup (libur) karena karyawan dan keluarganya – lebih dari 1.000 orang – melakukan rekreasi bersama di kawasan wisata Taman Kiai Langgeng, Magelang, Jawa Tengah. ”Kami biasanya mencari waktu yang pas agar semua karyawan bisa ikut. Kegiatan ini sangat penting, selain menghibur juga bisa mengakrabkan sesama karyawan dan keluarga,” kata Agus, Direktur Utama GP.

Sistem IQS ini merupakan terobosan yang menarik. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan di daerah pun – terlebih jaringan resto yang umumnya bergaya warungan – kini melangkah maju dengan menerapkan prinsip manajemen modern. Berbeda dari perusahaan besar yang merumuskan hubungan perusahaan dengan karyawan dalam bentuk Peraturan Perusahaan, ataupun Perjanjian Kerja Bersama, yang biasanya kurang aspiratif terhadap aspirasi karyawan.

Penerbitan IQS memiliki masa berlaku tertentu. Selama ini berlaku dua tahun. Setiap dua tahun sekali dilakukan evaluasi dengan menyempurnakan berbagai kekurangan. Yang jelas, secara kuantitas ataupun kualitas diusahakan agar kesejahteraan karyawan terus meningkat seiring pertumbuhan perusahaan. Satu hal yang juga menarik, program itu muncul bukan karena desakan atau tuntutan karyawan atau Depnaker, melainkan 100% atas inisiatif dan kemauan pemilik perusahaan. Apalagi di grup bisnis resto pada umumnya masih dikelola sangat tradisional di mana penataan organisasi dan sumber daya manusia masih tergantung selera sesaat pemilik – belum ada sistem. Dan rupanya, nilai-nilai dari sistem yang sudah ditulis itu dirintis sejak awal bisnis GP, hanya formulasinya secara tertulis baru sekitar lima tahun terakhir.

Agus menjelaskan, pihaknya memang berusaha menempatkan karyawan di posisi yang sangat strategis. Ini sebagai upaya untuk memanusiakan karyawannya. Cara yang logis karena kenyataannya karyawan memang kunci utama di bisnis jasa sebagaimana yang digeluti pihaknya. Agus yakin, bila diberlakukan secara baik dan terpuaskan, dengan sendirinya karyawan akan merasa aman, nyaman dan bisa berkonsentrasi dalam bekerja. Juga, bangga sebagai karyawan GP. ”Kepuasan dan kebanggaan inilah yang kami harapkan,” ungkap Agus.

disarikan dari http://solografi.com/2009/07/16/sekilas-pringsewu-group/
sumber gambar: http://kenyangbego.wordpress.com/ingin-makan-60-km-lagi/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>